MBG Jangkau 57,4 Juta Orang, BGN Benahi Pengawasan dan Standar Pangan
0 minutes read
JAKARTA , INFOVIRALSOPPENG.COM— Badan Gizi Nasional (BGN) memperketat standar keamanan pangan dan pengawasan program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui transformasi MBG 2.0, di tengah perluasan program yang telah menjangkau lebih dari 57,4 juta penerima manfaat.
Juru Bicara BGN Tysa Novenny mengatakan, fokus program kini tidak hanya pada jumlah penerima, tetapi juga pada keamanan, kualitas gizi, ketepatan sasaran, dan standar pengolahan makanan.
“Pertanyaannya bukan lagi berapa banyak, tapi seaman apa?,” kata Tysa, pada Selasa (20/10).
Menurut BGN, program MBG saat ini menjangkau 57.491.334 penerima manfaat, melibatkan 1.027.998 tenaga kerja, dan didukung 26.385 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi.
Untuk memperkuat keamanan pangan, BGN mewajibkan setiap SPPG memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Lembaga itu juga membenahi tata kelola, termasuk penerapan label batas waktu aman konsumsi makanan MBG.
Perubahan turut dilakukan pada pola penyajian. BGN telah menguji coba konsep prasmanan di 66 SPPG yang tersebar di 10 provinsi. Model ini ditujukan untuk memperbaiki pengalaman makan peserta didik sekaligus mendorong kemandirian, kebersamaan, dan kepedulian sosial.
Di wilayah dengan tantangan geografis dan kebutuhan gizi tinggi, BGN menyebut telah mengaktifkan 1.460 SPPG di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) serta wilayah dengan prevalensi stunting tinggi dan sangat tinggi. Dari jumlah tersebut, 480 SPPG berada di Indonesia Timur dan 980 di Indonesia Tengah.
BGN juga menyinkronkan data penerima manfaat dengan sistem kementerian dan lembaga terkait untuk meningkatkan akurasi penyaluran. Pembaruan perjanjian kerja sama dilakukan untuk memperjelas pembagian tanggung jawab dan memperkuat akuntabilitas pelaksanaan program.
Dalam aspek rantai pasok, BGN mengembangkan Loka MBG untuk mengintegrasikan pasokan lokal secara digital. Sementara itu, program Patriot Gizi diarahkan untuk memperkuat peran tenaga Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) sebagai edukator keamanan pangan, penggerak program, dan pendata dampak MBG di masyarakat.
Tysa mengatakan, transformasi tersebut dimaksudkan untuk memastikan perluasan MBG berjalan seiring dengan peningkatan standar pelaksanaan dan pengawasan.
Namun, keberhasilan pembenahan itu pada akhirnya bergantung pada penerapan standar keamanan pangan di setiap SPPG serta konsistensi pengawasan terhadap makanan yang disalurkan kepada penerima manfaat. (Sandi)
