BREAKING NEWS

Jangan Cabut Minangkabau dari Pintu Dunia

 


PADANG, INFO VIRAL SOPPENG.COM — Sebuah wacana mengenai perubahan nama fasilitas publik kerap kali memantik diskusi mendalam di tengah masyarakat. Salah satu topik yang belakangan mengemuka adalah usulan penggantian nama Bandara Internasional Minangkabau (BIM) menjadi nama tokoh ulama besar, Syekh Burhanuddin. Menanggapi hal tersebut, budayawan sekaligus jurnalis senior, Pinto Janir, memberikan pandangan kritisnya dalam sebuah catatan budaya yang dirilis di Padang, Jumat (25/9/2026).

Menurut Pinto Janir, bandara bukan sekadar infrastruktur transportasi, melainkan sebuah pintu gerbang utama tempat orang luar masuk dan mengenali sebuah daerah. Oleh karena itu, nama yang tertera di pintu masuk tersebut membawa beban identitas kolektif yang sangat besar.
"Ketika orang mendarat di Katapiang dan membaca 'Minangkabau', mereka tidak sedang membaca nama seseorang. Akan tetapi, justru mereka sedang berhadapan dengan sebuah kebudayaan," tulis Pinto Janir dalam opininya.
Ia menjelaskan bahwa di dalam diksi "Minangkabau" terkandung identitas yang utuh; mulai dari adat, bahasa, sastra, surau, silek, rumah gadang, nagari, tradisi merantau, hingga jejak para ulama, pejuang, dan seniman yang diwariskan dari generasi ke generasi. Mengganti nama tersebut dengan nama individu, menurutnya, berisiko mengerdilkan representasi budaya yang jauh lebih luas.
Meski demikian, Pinto menegaskan bahwa sikapnya ini sama sekali tidak mengurangi rasa hormat terhadap Syekh Burhanuddin. Beliau diakui sebagai pilar penting dalam sejarah penyebaran Islam dan kebudayaan di tanah Minang.
"Menghormati Syekh Burhanuddin tidak harus dengan menukar nama Minangkabau dari pintu udara kita," tegasnya.
Sebagai solusi dan bentuk penghormatan yang lebih tepat, Pinto mengusulkan agar nama Syekh Burhanuddin diabadikan pada ruang-ruang publik yang relevan dengan syiar dan jejak perjuangannya. Beberapa di antaranya seperti penamaan jalan utama, pembangunan pusat kajian, museum digital, lembaga pendidikan, masjid, atau kawasan budaya. Dengan cara ini, ketokohan sang ulama tetap dimuliakan tanpa harus mencabut identitas kultural bandara.
Lebih jauh, ia mengingatkan agar masyarakat tidak mempertentangkan antara figur Syekh Burhanuddin dengan entitas Minangkabau, atau memecah keselarasan antara kaum adat dan ulama. Hal ini mengingat filosofi masyarakat Sumatra Barat yang sudah mengakar kuat, yakni Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.
Di tengah arus globalisasi yang cenderung membuat dunia semakin seragam, mempertahankan nama Minangkabau dinilai sebagai bentuk keberanian lokal untuk menjaga akar budaya. Langkah ini bukan bentuk primordialisme yang sempit, melainkan wujud kontribusi dalam memperkaya keberagaman Indonesia di mata internasional.
"Karena saya Indonesia, saya tidak perlu menghapus Minangkabau dari diri saya. Justru melalui Minangkabau, saya memperkenalkan salah satu wajah Indonesia kepada dunia," pungkas Pinto Janir, menutup catatannya dengan jargon reflektif, "Bumiku Minangkabau, langitku Indonesia."

PUBLIS (Sandi)
Latest News
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image